Bima memijiti pangkal hidungnya, jari-jarinya menekan keras seolah bisa memijat keluar kekacauan yang baru saja masuk ke kepalanya. Indri sudah masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dengan rapat. Dari dalam, tidak ada suara. Hanya diam yang berat. Saat ini dia tengah duduk di meja makan rumah orangtuanya, diterangi lampu 5 watt yang membuat bayangan-bayangan panjang di dinding. Udara terasa pengap meski pintu belakang terbuka. Di depannya, secangkir teh baru saja disodorkan Dina dengan hati-hati, seolah gelas itu bisa pecah jika salah gerak. "Minum dulu, Bim." Suara ibunya pelan, nyaris berbisik. Bima menjauhkan tangannya dari wajah. Dia meraih gelas, meneguknya hingga tersisa setengah, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi agak keras. Teh tumpah sedikit ke taplak meja. Ia tidak pedu

