153. Dia Lagi

1901 Words

Malam itu, rumah Rita terasa lebih tenang setelah siang yang sibuk. Suara mesin jahit dari ruang kerja sudah lama berhenti, dan Juno sudah terlelap sejak satu jam lalu. Rita duduk di ruang tamu, menatap ponselnya yang menampilkan pesan terakhir dari Danu, sebuah foto Farel sedang tersenyum dengan es krim di tangan. Irma duduk di kursi sebelahnya, menyesap teh hangat yang sudah hampir dingin. "Masih chatan sama dia?" tanyanya, suara datar. Rita tidak menjawab. Jemarinya masih di layar, membalas pesan dengan senyum tipis. "Rita, Ibu cuma mau ngomong sekali lagi." Irma meletakkan cangkirnya. "Kamu itu sekarang punya usaha sendiri. Punya rumah. Punya uang lebih dari cukup. Kamu enggak butuh pria." Rita mengangkat kepala. Matanya menatap ibunya tajam. "Siapa bilang aku enggak butuh pria?"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD