Calista terbaring diam di ranjang rumah sakit, matanya tak lepas dari sosok Bima yang terlelap di sofabed di seberang ruangan. Pria itu tertidur pulas, napasnya teratur namun berat, wajahnya yang biasanya tegang kini terlihat lebih lunak dalam cahaya pagi yang mulai menyusup dari balik tirai. Calista sudah bangun sejak lama, menahan diri untuk tidak bergerak, hanya mengamati setiap tarikan napas Bima. Dalam diam, hatinya dicabik rasa bersalah yang menusuk, dia tahu betul dialah batu yang menggoreskan retak dalam pernikahan Bima dan Rita. Namun, fakta itu tidak cukup untuk melepaskan genggamannya. Tidak cukup untuk membuatnya mengalah. Calista sadar dirinya egois. Dan dia mengakuinya. Tangannya turun pelan, telapaknya menempel lembut pada perutnya yang masih datar. Di dalam sana, sebuah

