Calista berdiri termangu di depan pintu kamar ibunya, kayu kokoh yang terasa seperti tembok baginya. Dadanya naik turun perlahan sebelum akhirnya dia mengembuskan napas panjang, mengumpulkan nyali. "Ayo, Cal," bisiknya pada diri sendiri, suaranya hampir tak terdengar. "Kamu harus berani." Tangannya mulai terangkat, tergantung di udara sejenak sebelum kepalan tangannya mengetuk kayu pintu, tiga kali ketukan yang terasa menggema di koridor yang sepi. Pintu terbuka, tidak sepenuhnya, hanya cukup untuk menampilkan sosok Citra yang sudah berdandan rapi. Wajahnya halus, terawat baik, namun kosong dari ekspresi. Matanya menyapu Calista sekilas, dingin dan berjarak. "Ma, boleh bicara sebentar?" Suara Calista keluar pelan, hampir seperti desahan. Citra tidak menjawab, hanya mendorong pintu ter

