Tiga hari berlalu sejak Arsena lahir. Ruang inap yang tadinya ramai oleh kunjungan, kini kembali sunyi. Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela, menyinari tumpukan tas dan kotak-kotak hadiah di sudut ruangan. Calista duduk di tepi ranjang, mengenakan dress rumah sakit berwarna biru muda, rambutnya diikat asal. Wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah bersinar. Indri sibuk di dekat lemari kecil, melipat baju-baju bayi dengan gerakan cepat namun rapi. Tangannya yang terampil menumpuk popok kain, selimut tipis, dan baju mungil bergambar hewan hutan. Sesekali dia menoleh ke arah box bayi, di mana Arsena terbungkus kain bedong biru, tidur pulas dengan tangan mungil terangkat di samping kepala. Sisi berdiri di samping box, dagu bertumpu pada tepian, matanya tak lepas dari adiknya. Jari

