Pagi menjelang siang, ruang inap Calista berubah menjadi ramai oleh kehadiran orang-orang tercinta. Cahaya matahari masuk melalui jendela, menciptakan garis-garis keemasan di lantai. Udara dingin rumah sakit terasa hangat oleh tawa dan obrolan. Ardha duduk di kursi roda yang diposisikan dekat ranjang. Matanya yang tua berbinar-binar menatap cicitnya yang baru lahir. Di sebelahnya, Citra sibuk mengatur balon-balon berbentuk bintang dan hati yang berwarna-warni, mengikatnya di sudut ruangan. Zoya duduk di sofa, tas kado besar di sampingnya. Citra mengangkat bayi itu dengan hati-hati dari gendongan Calista, lalu berjalan mendekati Ardha. "Cicit laki-laki pertama Papa," ucapnya lembut, meletakkan bayi mungil itu di pelukan Ardha. Ardha menunduk. Wajahnya yang keriput bersinar, matanya berka

