Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lewat, tapi mata Indri masih terbuka lebar. Kamarnya gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan yang masuk melalui celah tirai. Dia berbaring telentang, tangan di atas d**a, matanya menatap langit-langit kamar yang tidak terlihat jelas. Percakapan tadi saat Nathan mengantarnya pulang terus berputar di kepalanya. Setiap kata, setiap jeda, setiap tatapan Nathan, semua terulang seperti film yang diputar berulang. "Om milih aku?" tanyanya waktu itu, suaranya masih terdengar tak percaya. Nathan menatapnya dari balik setir. Cahaya lampu taman masuk, membuat bayangan di wajahnya. "Iya. Karena entah mengapa, aku terus tertuju ke kamu setelah percakapan kita malam itu di rumah sakit." Indri memejamkan mata, tapi bayangan itu tetap muncul.

