Bima keluar dari kamar dengan langkah santai. Kaus putihnya dibalut kemeja flanel merah kotak-kotak yang tidak dikancing, lengan digulung hingga siku. Celana jeans biru yang sudah luntur di bagian paha, salah satu celana kesukaannya. Dia siap berangkat ke bengkel. Matanya menyapu ruang keluarga, lalu dapur. Kosong. "Cal," panggilnya sambil menuju dapur, memastikan. "Di kamar tamu!" Suara Calista terdengar dari ujung lorong. Bima berbalik, melangkah mendekati kamar tamu yang biasa kamar mandinya dia pakai dulu saat awal-awal bersama Calista. Pintunya terbuka. Di dalam, Calista berdiri di tengah ruangan, tablet di tangan, matanya berputar memindai setiap sudut. Jari telunjuknya sesekali menunjuk ke dinding, lalu ke lantai, seperti sedang menggambar sesuatu di udara. "Sedang apa, Sayang?"

