Nathan duduk di sofa panjang, satu kaki bersila, dagu bertumpu pada punggung tangan yang menekuk di sandaran kursi. Matanya tidak lepas dari Calista yang duduk di kursi malas di seberangnya, tangannya sibuk mengusap perut yang mulai membuncit dengan gerakan melingkar lembut. Nathan mengamati keponakannya itu. Masih sulit dipercaya. Calista, gadis yang dulu hanya mau bergaul dengan kalangan terbatas, yang selalu menjaga jarak dengan siapa pun yang dianggapnya "tidak sekelas", kini duduk di rumah ayahnya dengan perut hamil enam bulan, menunggu suami pulang dari bengkel. Suami seorang montir. Seorang montir. "Kenapa Om lihatin aku terus?" Suara Calista tiba-tiba memecah keheningan, nadanya ketus meski matanya tidak lepas dari perutnya sendiri. Nathan tersenyum kecil. "Om lagi bayangin kam

