"Ouh, Sayang ...." Suara Nathan serak, nyaris seperti erangan yang tertahan. Napasnya memburu, tidak beraturan, bersamaan dengan miliknya yang mengeras dan menegang di genggaman tangannya sendiri. "Indri ... Ah!" Jemarinya bergerak ritmis, maju-mundur dengan cepat, memacu sensasi yang sudah di ambang batas. Matanya terpejam rapat, mulutnya menganga, mencari udara. Tubuhnya menegang ketika klimaks akhirnya datang, cairan hangat menyembur deras, membuatnya mengejang hebat, lututnya hampir lemas. Matanya terbuka perlahan. Napas masih tersengal. Dia menunduk, menatap cairan yang tercecer di lantai keramik kamar mandi. Beberapa menit lalu, dia baru saja pulang setelah mengantar Indri. Hujan deras, pakaian basah, dan ciuman panas di dalam mobil membuat hasratnya tak terbendung. Tapi dia memili

