Mereka masih bertahan di lounge, menikmati alunan piano yang mengalun lembut dari panggung kecil di sudut ruangan. Cahaya temaram menciptakan suasana hangat, dan aroma kopi bercampur parfum samar memenuhi udara. Indri mencondongkan tubuh ke arah Nisa, matanya berbinar penasaran. "Gimana?" tanyanya, menunggu penilaian sahabatnya tentang Nathan yang sudah dilihatnya langsung. Nisa tertawa kecil, matanya masih mengarah ke arah bar di mana Nathan baru saja pergi. "Gak ada dia kelihatan tua." Dia menoleh ke Indri. "Malah dibandingkan Abang lo, kayaknya tampangnya lebih mudaan Nathan." Indri mengangkat bahu, jemarinya memainkan sedotan di gelas minuman. "Mungkin karena dia enggak punya beban, ya. Kan dia single. Jadi hidupnya bebas." Dia tersenyum tipis. "Apa coba yang dikhawatirkan? Sementar

