143. Jangan Mengadu

1316 Words

"Aku berangkat, Cal." Bima meletakkan cangkir kopi yang baru saja dicucinya ke rak pengering dengan gerakan pelan. Suara porselen beradu dengan besi terdengar samar. Calista yang baru selesai menutup panggilan telepon, menghampiri suaminya dari belakang. Tangannya meraih pinggang Bima, memeluknya sebentar sebelum berputar ke samping. "Kopinya habis?" "Sudah." Bima menoleh, tersenyum. "Malah cangkirnya sudah aku cuci." Calista tertawa kecil. Suaranya renyah di dapur yang sunyi. Bima berbalik sepenuhnya, kedua lengannya melingkar di pinggang istrinya. Perut Calista yang membuncit membuat jarak di antara mereka, tapi Bima menariknya lebih dekat, merangkul dengan lembut. "Apa kegiatan kamu hari ini?" tanyanya, dagu bertumpu di puncak kepala Calista. "Aku ke butik nanti, agak siangan." Cal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD