Pagi itu Bima sudah sibuk di depan kompor, spatula di tangan, wajan berisi nasi goreng yang beraroma sedap. Di kursi tinggi, Sisi duduk dengan kaki bergelantungan, dagu bertumpu pada tangan, matanya mengikuti setiap gerakan ayahnya dengan penuh antusias. Wajahnya cerah, berbeda dari hari-hari sebelumnya. Calista muncul dari lorong, berhenti sejenak di ambang pintu dapur memperhatikan pemandangan di depannya, Bima dengan kaus putih yang dikenakannya, Sisi yang tersenyum kecil saat ayahnya melemparkan wajan dengan gaya khas juru masak. Dadanya menghangat, tapi juga ada getir yang mengendap. Ingatannya melayang pada malam tadi, pada punggung Bima yang membungkuk di balkon, pada isak tangis yang tertahan angin. Dia menghela napas pelan, lalu melangkah masuk. Menyimpan malam tadi di tempat pa

