120. Kenapa Harus Panggil Mama?

1509 Words

Rita menatap rendah ke dalam gelas tinggi di depannya, di mana es batu telah menyusut meleleh dalam cairan kopi yang kecokelatan. Setelah pertengkaran yang meninggalkan getar di tangannya, dia memutuskan untuk keluar, mencari udara yang tidak terasa pengap oleh kemarahan dan tuduhan. Dengan anak-anak tidak di rumah, dia bisa bernapas lega, setidaknya untuk beberapa saat. "Rita, maaf sudah membuatmu menunggu." Suara itu menarik perhatiannya. Rita mengangkat kepala, dan sebuah senyum tipis, hanya sekadar tarikan di sudut bibir, dihadiahkannya pada pria yang baru saja duduk di seberangnya. Ini pertemuan pertama setelah sekian kali ajakan ditolak, dibatasi hanya oleh obrolan singkat di gerbang sekolah saat mengantar atau menjemput. "Ada masalah?" tanyanya, suara Danu terasa hati-hati. Rit

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD