Sore itu, trotoar mulai sepi. Audrey masih berlari, sepatu sekolahnya berdebam di aspal, tas ranselnya berguncang di punggung. Napasnya tersengal, bukan hanya karena lelah. Tangannya merogoh saku rok, mengeluarkan ponsel. Layar menyala sebentar, lalu mati. Logo baterai kosong berkedip sebelum menghilang. "Sial, lowbat lagi." Ia memelan kan langkah, lalu berhenti. Dadanya naik turun cepat, keringat tipis membasahi pelipis. Ia menoleh ke kiri kanan, mencari taksi. Tidak ada. Hanya beberapa motor dan mobil pribadi yang melaju tanpa menghiraukan. Ia berjalan ke halte beton di pinggir jalan, duduk di bangkunya yang dingin. Tas diletakkan di pangkuan, tangannya menggenggam ponsel mati. Matanya masih merah, bekas tangis yang belum kering. Ia menatap jalanan kosong di depannya, memikirkan Sandra

