“Abby sudah kembali ke rumah suaminya.” Suara Desi terdengar pelan, tapi cukup membuat Irwan yang sedang duduk di kursi rotan menoleh. Pria itu mengusap dagunya perlahan, matanya menyipit seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Jadi dia meninggalkan rumah Ibu, ya.” Desi mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Wajahnya tampak lelah, garis-garis halus di dahinya semakin jelas. “Ya. Suri juga sudah kembali ke sekolah.” Irwan mendecak kesal. Kakinya bergoyang tak sabar, jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi. “Sial! Kenapa sih, Damian melarang kita berdekatan dengan Abby? Jadi sulit kan kita minta bantuan.” Nada suaranya penuh geram, tapi juga terselip kegelisahan. “Benar. Padahal kita keluarga.” Desi menarik napas panjang. “Kak Yuli juga sudah tidak mau menyapa kita

