BERTAHAN

1918 Words

‘Di mana ya itu? Ada apa sebenarnya?’ Seminggu setelah pertemuan dengan Eldra dan Bisma malam itu, Helia mulai menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia abaikan, ingatannya sedang berusaha membuka diri. Tak sekaligus dengan serbuan laksana bendungan jebol. Tapi seperti permukaan wadah yang retak, isinya bocor sedikit demi sedikit. Pagi itu, Helia berdiri di balik konter bar Théologie, menuang air panas ke teko keramik. Menyiapkan Memory Tea dengan komposisi white tea, pear blossom, dan vanilla orchid. Uap tipis naik, menyentuh wajahnya. Aroma menguar—lembut dan elegan. Dan tiba-tiba, kepalanya terasa kosong sejenak. Seperti layar yang sempat memudar sebelum gambar lain muncul. Ada cahaya yang terlalu terang. Ada suara gelas beradu. Ada aroma yang... bukan teh. “Kak!” Teguran Danu mem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD