Lampu putih yang terlalu terang. Bau disinfektan yang menusuk hidung. Suara mesin yang berdetak stabil, mengiringi setiap tarikan napas Anthea. Anthea perlahan membuka matanya, dunia di sekelilingnya masih kabur, seperti terhalang kabut tebal. Kepalanya berat, tubuhnya terasa hampa, seolah bukan miliknya sendiri. "Aku ... di mana?" bisiknya. Ingatannya terputus-putus. Suara tembakan. Jeritan. Kaca yang pecah berhamburan. Lalu ... sakit yang begitu tajam di pingganhnya, membuatnya terjatuh di lantai galeri yang dingin. “Aku tertembak ...,” lanjutnya. Anthea mencoba menggerakkan tangannya, tapi rasa nyeri yang tiba-tiba menyergap membuatnya mengerang pelan. "Jangan bergerak dulu." Suara itu. Dalam. Serak. Cukup familiar. Anthea menahan napas, perlahan memalingkan wajahnya

