Suasana di ruangan itu mendadak terasa mencekam. Darren hanya bisa terdiam sembari memperhatikan ketegangan di antara kedua wanita yang ada di depannya. Kulit Khatleen yang putih mempertegas rona pada kedua pipinya, sementara Intan tak melepaskan tatapan tajamnya dari gadis bule itu. "Gimana keadaan Ayah, Kak?" tanya Darren yang kasihan melihat Khatleen terintimidasi oleh Intan. "Tadi sempat bangun sebentar terus tidur lagi. Dokter yang menangani Ayah mau bicara sama Kakak sebentar lagi, mungkin sebaiknya kamu juga ikut mendengarkan juga," jawab Intan yang lalu menggigit bibir bawahnya menahan isak tangisnya tidak pecah. Dia sudah tahu Steven l adalah dokter urologi yang mengambil sub spesialis onkologi. Jadi Intan sedikit banyak sudah dapat menebak penyakit apa yang sebenarnya diderit

