Tak Ada Ruang untuk Berkelit

1413 Words

Lounge fakultas tidak seramai biasanya, mesin espresso berdengung, sinar siang jatuh miring lewat jendela besar. Nathan datang lebih dulu, duduk tegak dengan map tipis, mencoba tampak rileks. Begitu Adrian masuk, ruang itu seperti menciut. Setelan rapi, langkah tenang, tatapan dingin yang tidak perlu keras untuk memotong udara. “Terima kasih meluangkan waktu,” ujar Adrian. Sopan, datar, tapi ada tenaga yang menahan di balik nada. “Sama-sama. Silakan duduk,” jawab Nathan, mencoba tersenyum. Mereka memesan minuman. Hening singkat. Adrian meletakkan ponsel di atas meja, layar menghadap ke atas, kemudian menatap langsung. “Saya datang sebagai suami, dan sebagai mitra universitas,” katanya. “Saya akan bicara jelas supaya tidak ada ruang tafsir.” Nathan menelan ludah yang tidak sempat ditel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD