Aula fakultas penuh cahaya pagi. Banner kerja sama kampus dan industri terpajang di panggung. Kursi tersusun rapi, deret depan diisi undangan. Panitia lalu lalang dengan clipboard. Petugas keamanan berdiri di dua pintu samping, berbicara singkat lewat radio. Vanila datang bersama Adrian. Maya menyusul dari belakang, membawa map dan ponsel. Mereka berhenti di meja registrasi. Panitia memeriksa daftar, lalu memberi kartu nama dan jadwal sesi. “Posisi duduk untuk pembicara di sisi kiri panggung,” ucap panitia. “Testimoni dua menit. Moderator akan memberi isyarat.” Vanila mengangguk. Adrian menatapnya sebentar. “Tarik napas,” katanya pelan. “Kalau gugup, cari mataku.” Maya berdiri sedikit di belakang Vanila. “Saya di baris kedua. Kalau ada perubahan, saya catat,” ujarnya. Mereka bergerak

