Maya, staf akademik dari fakultas, duduk di bangku belakang dengan buku catatan dan stopwatch di tangan. Tugasnya mengawasi setiap sesi bimbingan Vanila sebagai bagian dari protokol kampus. Ia mencatat waktu mulai dan selesai, poin koreksi yang dibahas, serta memastikan pintu ruangan tetap terbuka selama bimbingan berlangsung. Ruang baca lantai dua ramai tipis. Pintu setengah terbuka, suara halaman buku dan ketikan laptop bergaung pelan. Maya duduk di bangku belakang, ponsel di tangan untuk mencatat waktu. Vanila mengambil posisi di sisi lorong, laptop sudah menyala, draf bab empat terbuka. Nathan datang tepat waktu. Kemeja gelap, jas tanpa dikancing, buku catatan di tangan. Ia mengangguk pada Maya, lalu duduk di seberang Vanila. Jarak terjaga, kursi tidak digeser terlalu dekat. “Pagi,”

