Pagi datang ringan. Vanila bangun lebih awal dari biasanya, duduk pelan di tepi ranjang, lalu menepuk perutnya yang terasa hangat. Dari dapur terdengar bunyi sendok menyentuh panci. Adrian menatap dari ambang pintu, senyum tipis muncul begitu matanya bertemu dengan mata Vanila. “Kamu tidur nyenyak?” tanya Adrian. “Lumayan,” jawab Vanila. “Aku nggak sering kebangun. Si kecil juga anteng.” “Syukurlah. Sarapan bubur oatmeal sama pisang, oke?” tanya Adrian lagi. “Oke. Aku ikut potong pisang, boleh?” Vanila bangkit pelan, menahan diri agar tidak terlalu cepat. “Boleh, tapi duduk di kursi bar. Aku yang berdiri,” ucap Adrian. Di meja dapur, Vanila membantu mengiris pisang dengan gerakan lambat. Uap dari panci kecil naik tipis, aroma kayu manis terasa ringan. Ketika mangkuk diletakkan, Vanil

