Adrian meraih tas kecil di dekat pintu, lalu menahan siku Vanila dengan hati-hati. Ia menekan tombol lift, napasnya berat, tangannya tetap menggenggam tangan istrinya. “Bertahan sebentar, Sayang. Kita turun sekarang,” ucap Adrian. “Aku nggak kuat kalau gelombangnya datang lagi, Mas,” kata Vanila, wajahnya menegang. Pintu lift terbuka. Adrian membimbing Vanila masuk, menahan tubuhnya agar tidak goyah. Angka di panel bergerak turun. Gelombang kencang berikutnya datang lebih rapat. Vanila menunduk, menggenggam lengan Adrian sekuat mungkin. “Sakitnya narik semua,” ucapnya pendek. “Tarik napas empat, lepas enam. Aku barengin,” kata Adrian, menatap detik di jam tangan. Pintu lift terbuka di lobi. Adrian menuntun Vanila menuju mobil, memasangkannya sabuk pengaman, lalu melesat ke kursi kemu

