“Dira, Sayang. Bunda boleh masuk, Nak?” “Iya, Bun.” Wulan masuk ke dalam kamar Putrinya membawa beberapa cemilan dan satu gelas jus. “Lagi apa?” “Baca buku, Bun.” “Pas banget Bunda bawa cemilan buat teman membaca.” “Terima kasih, Bun.” Indira menerima jus wortel kesukaannya. “Selalu enak,” ucapnya setelah meminum hampir separuh gelas jus buatan Bundanya. “Gimana perasaanmu hari ini, Nak?” “Sangat baik, Bun. Sejak kemarin Dira sudah tidak minum obat.” “Benarkah?” Wulan terkejut saat Putrinya mengatakan tidak minum obat dari Dokter. “Bagaimana rasanya jika tidak minum obat? Bukankah Dokter masih menyarankan kamu tetap minum obat hingga bulan depan?” Indira menggenggam kedua tangan Bundanya. “Rasa takut yang menghantui Dira tidak akan hilang jika hanya bergantung pada obat Dokter. Se

