Malam turun perlahan di Jakarta. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, angin membawa aroma hujan yang baru saja reda. Di kamar Allysa, Lucas duduk di pinggir ranjang sambil menggenggam tangan istrinya, seolah takut kehilangan lagi. Sesekali, Lucas mengusap perut Allysa dengan lembut. Setiap gerakan tangannya penuh kehati-hatian dan kekaguman, seakan menyentuh sesuatu yang paling rapuh di dunia. “Sayang.” Suara Lucas pelan, bergetar tipis, “aku ingin melihat dia.” Allysa menoleh. “Melihat siapa?” Lucas tersenyum samar, menunjuk perutnya. “Calon anak kita.” Wajah Allysa memerah. Bukan hanya malu — tetapi terharu. “Bisa ya … malam-malam begini?” tanya Lucas pelan, suaranya seperti orang yang khawatir kehilangan kesempatan. Allysa mengangguk. “Bisa, Lucas. Di rumah sakit besar bias

