Malam itu, hujan rintik-rintik turun membasahi halaman kecil rumah keluarga Amir. Angin membawa aroma tanah basah dan wangi masakan dari dapur. Dari teras rumah, lampu temaram memantulkan siluet Allysa yang masih duduk termenung, memeluk lututnya sendiri. Pikiran tentang Lucas, tentang mafiosos Turki, tentang kebohongan-kebohongan kecil yang ia simpan dari orang tuanya berlompang-lompang di dadanya. Hatinya hangat oleh cinta, tapi dingin oleh rasa bersalah. Pintu rumah terbuka pelan. “Sa … ayo masuk,” suara lembut Ibu Ika memanggil. “Makan malam sudah siap, Nak.” Allysa menoleh, tersenyum kecil lalu berdiri. “Iya, Bu. Maaf, tadi melamun.” Begitu masuk ke ruang makan, hangat rumah seketika merembes ke jiwanya. Meja makan dipenuhi hidangan kesukaannya: soto Betawi dengan potongan daging

