Suasana pagi di Santorini begitu memanjakan mata. Langit biru cerah, angin laut yang hangat, dan aroma kopi dari balkon vila mereka menjadi latar sempurna bagi dua manusia yang baru saja sah saling memiliki. Baby duduk di ayunan rotan, mengenakan gaun linen putih yang melayang pelan ditiup angin. Rambutnya digerai, kulitnya sedikit terbakar matahari, dan wajahnya memerah setiap kali Reigan mencuri pandang. Reigan datang dari arah dapur, membawa dua gelas jus dan dua croissant. "Kau makin glowing, atau aku yang makin gila lihat kau tiap hari?" katanya sambil meletakkan nampan. Baby tersenyum, menarik Reigan duduk di sebelahnya. “Mungkin dua-duanya.” Mereka saling menyuapi dengan tawa pelan. Reigan mengecup pipi Baby beberapa kali—tidak sabar. Setiap sentuhan ringan membuat keduanya sal

