Bab 9. Satu Inci Dari Dosa

1628 Words
Jasson membawa baskom kecil dan kotak obat, lalu langsung bersimpuh di lantai samping ranjang. Tanpa izin, ia menarik perlahan kaki Hanami yang menjuntai. Ia mulai membersihkan luka itu dengan handuk basah, gerakannya kaku—jelas sekali dia tidak terbiasa melakukan ini. Mana mungkin pernah? Selama ini, jari-jari Jasson hanya digunakan untuk hal-hal yang menyenangkan dirinya sendiri. Menyesuaikan setelan mobil balapnya, memutar kunci apartemen mewah, atau paling mentok— mengelus rambutnya sendiri di depan cermin agar tetap klimis dan mematikan. Dulu, Jasson adalah raja di singgasananya sendiri. Ia hanya perlu duduk santai di bar atau sofa klub, menyesap minumannya dengan angkuh, lalu menunggu wanita-wanita cantik mengantre untuk naik ke pangkuannya tanpa perlu ia minta. Jasson tidak pernah melayani tapi Jasson selalu dilayani. Namun malam ini, kenangan itu pergi entah ke mana. Pria yang biasanya dipuja-puja itu kini menekuk lututnya di atas lantai yang dingin, sibuk bergulat dengan kapas dan cairan antiseptik. Ada rasa asing yang menjalar di dadanya saat melihat luka-luka kecil itu. Sebuah kesadaran pahit bahwa kali ini, pesonanya tidak bisa menyembuhkan apa pun. "Tadi aku ketemu Mama dan Kak Jourell. Dia pikir aku bakal nyerah dan minta uang," Jasson akhirnya membuka suara tanpa mendongak, mencoba menutupi rasa canggungnya yang luar biasa. "Kenapa sih orang-orang itu nggak percaya kalau aku bisa?” Jasson terkekeh hambar, matanya masih terfokus pada lecet di tumit Hanami. Tangannya yang biasa mencengkeram stang motor dengan kencang, kini gemetar hanya karena takut tekanannya menyakiti wanita di depannya. Hanami hanya diam, melirik pun enggan dan malah berpura-pura memejamkan mata. Jasson menghela napas, lalu menatap Hanami dengan serius sambil mengoleskan salep. "Hanami, dengar. Aku sudah pikirkan jalannya. Kuliahmu... ditunda dulu setahun ya? Sampai anak ini lahir." Hanami mulai menoleh, matanya yang sembab menatap Jasson dengan dingin. "Kita buat kesepakatan," lanjut Jasson cepat sebelum dipotong. "Kita tidak perlu menikah kalau itu yang kau takutkan. Tapi setelah anak ini lahir, biar aku yang rawat dia sepenuhnya. Aku yang urus, aku yang cari uang. Dan kau... kau bisa bebas kuliah, kau bisa berangkat ke Jepang atau ke mana pun kau mau. Aku tidak akan menahanmu lagi. Aku bahkan yang akan mengantarmu sendiri meraih mimpi itu kalau perlu." Jasson sedikit mendekat, wajahnya menunjukkan kesungguhan seorang pria yang sedang menawarkan solusi terbaik yang ia punya. "Nanti setiap pagi aku akan siapkan apa pun yang kau butuhkam, s**u cokelat atau apa pun itu, biar kau fokus sama dirimu sendiri saja. Gimana?" Hanami terdiam cukup lama, menatap Jasson yang masih bersimpuh di bawahnya. Tawaran itu, hidup bebas tanpa ikatan pernikahan tapi anak tetap terjamin—seharusnya terdengar menggiurkan. Tapi hatinya yang masih dongkol tak ada niat untuk sekadar menjawab. “Dia pikir mimpiku bisa diganti dengan segelas s**u coklat panas di pagi hari?" Dalam hati Hanami menjerit dan ingin memaki namun suara itu hanya teredam dalam pikiran. Sudah terlalu lelah hingga enggan untuk berkonfrontasi lagi. Bangsatnya anak di dalam kandungannya itu seolah ingin memberikan hukuman kepada Ibunya, Hanami tidak bisa tidur dengan tenang sampai akhirnya merasakan telapak tangan besar menyentuh lembut perutnya disusul bisikan yang membuat hati Hanami melencos. “Tidur dulu, ya. Ibumu sudah lelah hari ini, jangan nakal ..." Bisikan itu sangat lembut, nyaris tertelan oleh dengung suara AC. Hanami membuka matanya, memandang Jasson yang masih setia bersimpuh di sampingnya. Hanami menggigit bibir, entah kenapa rasanya ingin sekali menangis. “Dulu, aku belajar menerjemahkan rindu ke dalam aksara yang indah. Tapi sekarang, aku bahkan tidak bisa menerjemahkan apa arti kita, Jasson." *** Pagi menyingsing, cahaya matahari yang menyeruak masuk dari celah gorden apartemen terasa terlalu silau bagi Hanami. Kepalanya berdenyut, efek dari tangisan hebat semalam yang menguras seluruh oksigen di paru-parunya. Namun, saat ia memutar tubuh dan membuka mata, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana, di kursi tunggal tepat di samping ranjang, Jasson sudah duduk tegak. Ia tidak sedang bermain ponsel, tidak juga tertidur. Pria itu hanya duduk diam, menatap kosong ke arah jendela, sebelum akhirnya menyadari Hanami sudah bangun. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara dengung AC yang pelan. "Sudah bangun?" suara Jasson serak, khas orang yang terjaga sepanjang malam. Hanami tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap wajah Jasson. Di bawah cahaya pagi, luka gores di pipi Jasson akibat hantaman map semalam terlihat lebih mengerikan. Kulitnya memerah, ada sedikit sisa darah kering yang belum dibersihkan. Namun, yang membuat Hanami gugup bukanlah luka itu, melainkan sorot mata Jasson. Mata yang biasanya penuh kilat kesombongan itu kini tampak dingin, namun ada kesenduan yang begitu dalam di sana—seperti samudera yang tenang tapi menyimpan badai di dasarnya. Jasson bergerak sedikit, meraih sebuah gelas di atas nakas yang masih mengepulkan uap tipis. "Minum susunya. Masih hangat," perintahnya pendek. Tidak ada nada memerintah yang kasar, hanya intonasi datar yang sulit dibantah. "Aku juga sudah pesankan sarapan di meja. Bubur ayam, aku lihat di internet supaya tidak terlalu mual." Hanami mengerjapkan mata, merasa kikuk dengan perhatian yang begitu halus itu. Ia bangun perlahan, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil menerima gelas s**u cokelat itu. Tangannya yang mungil sempat bersentuhan dengan jemari Jasson yang kasar dan dingin. Hanami buru-buru menarik tangannya. "Pipimu..." lirih Hanami, hampir tidak terdengar. Jasson hanya menyentuh goresan di pipinya dengan ujung jari, seolah itu bukan apa-apa. "Hanya kertas. Tidak seberapa dibanding apa yang kau rasakan semalam." Ia kemudian bangkit, berdiri menjulang yang membuat Hanami merasa semakin kecil di balik selimut. Jasson merapikan kausnya yang tampak kusut, lalu menatap Hanami dengan pandangan menuntut jawaban. "Hari ini... kuliah?" Hanami menelan ludah. s**u cokelat di kerongkongannya terasa pahit. Kebohongan itu sudah di ujung lidah, siap untuk dilepaskan. "Iya," jawab Hanami singkat. Matanya dilarikan ke arah gelas. "Ada kelas pagi." "Aku antar?" "Tidak usah. Aku sudah pesan ojek online," tolak Hanami cepat, terlalu cepat hingga terdengar mencurigakan. "Lagipula kau harus istirahat. Matamu merah." Jasson terdiam cukup lama, mempelajari ekspresi Hanami yang kaku. "Baiklah. Kalau ada apa-apa, telepon. Aku tidak akan mematikan ponselku hari ini." * Pukul 08.45. Hanami berdiri di pinggir jalan dengan tangan yang gemetar hebat. Sebuah mobil Avanza putih berhenti di depannya. Ia memilih layanan carpool—berbagi tumpangan dengan orang lain demi menghemat pengeluaran. Hanami masuk ke kursi tengah, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar. Di kursi belakang, sudah ada sepasang suami-istri. Hanami awalnya tidak memedulikan mereka, ia hanya menatap keluar jendela, menatap gedung-gedung Jakarta yang terasa seperti penjara raksasa. Namun, isakan kecil mulai terdengar. "Sabar, Ma... mungkin memang belum waktunya," suara seorang pria terdengar berat, penuh dengan kepedihan yang ditahan. Hanami melirik dari kaca spion tengah. Wanita di kursi belakang itu sedang menangis sesenggukan, memegangi perutnya yang tampak rata. Wajahnya pucat, matanya bengkak lebih parah dari Hanami semalam. "Sepuluh tahun, Pa... sepuluh tahun kita coba segala macam," suara wanita itu pecah, serak karena terlalu banyak menangis. "Perutku sudah hancur kena bekas suntikan hormon tiap hari. Dokter bilang sel telurku bagus, tapi kenapa tetap gagal? Kenapa Tuhan kasih ke orang yang tidak mau, tapi kita yang mengemis setiap malam malah tidak diberi?" Pria itu memeluk istrinya erat, air mata pria itu ikut jatuh di bahu istrinya. "Kita coba lagi. Kalau harus jual mobil atau rumah sekalipun, kita coba lagi. Jangan menyerah, ya?" Hanami membeku. Kata-kata wanita itu— perutku sudah hancur kena bekas suntikan—terngiang-ngiang di kepalanya seperti lonceng kematian. Ia meraba perutnya sendiri yang masih sangat rata. Di dalam sana, ada sesuatu yang sedang tumbuh tanpa perlu ia minta. Sesuatu yang bagi pasangan di belakangnya adalah sebuah mukjizat yang bernilai lebih mahal dari nyawa mereka sendiri. Hanami merasa seperti iblis. Ia sedang menuju sebuah tempat untuk membuang apa yang begitu didambakan orang lain hingga mereka harus mati-matian berjuang. "Mbak, sudah sampai di titik tujuan. Klinik Sejahtera," ucap sopir ojek daring itu membuyarkan lamunan Hanami. Hanami turun dengan kaki yang terasa seperti jelly. Di depannya, sebuah bangunan putih tanpa papan nama besar berdiri dengan angkuh. Suasananya sepi, hanya ada beberapa motor terparkir di sana. Ia melangkah mendekati pintu kaca. Namun, setiap langkah yang diambilnya terasa seperti ada beban berton-ton yang menempel di pundaknya. Bayangan wanita di mobil tadi terus berkelebat. "Sepuluh tahun... kami mengemis setiap malam." Hanami berhenti tepat satu meter dari gagang pintu. Ingatan tentang Jasson yang memberikan harapan konyol tentang menunda kuliah dan membiarkannya bebas nanti tiba-tiba terlintas. Sementara ia di sini, berdiri di depan pintu kematian. Hanami mendongak, menatap langit Jakarta yang mendung. Tiba-tiba, rasa mual yang luar biasa menghantamnya—bukan mual karena kehamilan, tapi mual karena rasa jijik pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak gemetar ke arah perutnya. Ia kembali ingat ucapan Jasson semalam. “Aku yang bakal rawat dia sepenuhnya. Aku yang cari uang. Dan kau... kau bisa bebas." “Tidur ya, ibumu sudah lelah hari ini. Jangan nakal ...” Mungkin Jasson memang b******k. Mungkin Jasson memang perusak mimpinya. Tapi, apakah anak di dalamnya ini juga bersalah? Apakah anak ini harus menanggung dosa dari malam yang kacau itu dengan nyawanya? Hanami mundur satu langkah. Lalu dua langkah. Air matanya jatuh, kali ini bukan karena amarah pada Jasson, tapi karena kebimbangan yang menyiksa jiwanya. "Jasson... apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pada angin. Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Ada sebuah nomor baru terpampang di layar. Hanami menatap layar itu dengan pandangan kabur oleh air mata, sementara tangannya masih berada di atas perutnya—seolah sedang mencoba melindungi sesuatu yang sedetik lalu ingin ia musnahkan. Ada sebuah pesan masuk yang membuat hatinya melencos tak karuan. Aku kayaknya pulang malam. Mau interview kerja, kalau butuh apa-apa telepon aja. Save nomor aku. Jasson. Hanami menatap layar ponselnya yang buram karena air mata. Pesan itu singkat, khas Jasson yang tak suka berbasa-basi. Tapi kata Interview kerja dan Save nomor aku terasa seperti jangkar yang menahan Hanami agar tidak tenggelam lebih jauh ke dalam lubang dosa. Jasson sedang mencoba membangun pondasi dari puing-puing kesalahan mereka, sementara Hanami... Hanami baru saja hampir merobohkan segalanya. "b*****t kau, Jasson..." bisik Hanami sambil meremas perutnya, "Kenapa harus sekarang kau jadi manusia?" Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD