Arthur membuka mulutnya tanpa mampu berkata satu kata pun. Kata-kata Lintang barusan seolah menjadi peluru panas yang menembus jantungnya, membuatnya merasa sesak dan air mata sontak mengalir begitu saja. "Apa yang kamu katakan, Sayang?" tanya Arthur masih berusaha menganggap semuanya hanya candaan semata. "Apa kepalamu sakit? Bagian mana? Biar aku panggil Dokter Fahrian kemari!" kata Arthur memegang bahu Lintang. Lintang menggeleng keras, ia menepis kedua tangan Arthur. "Aku hanya ingin berpisah! Biar kucari Arta sendiri, aku bisa walaupun tanpa kamu!" kata Lintang mengeratkan giginya menahan semua teriakan yang mendesak di tenggorokan. Arthur meluruhkan bahunya dengan lemas. Apa yang ia takutkan kini seolah menjadi kenyataan, Lintang mungkin sudah mengetahui hubungannya dengan Haze

