Keandre menghela napas panjang, kemudian ia mulai mengeluarkan isi hatinya. "Begini, Pa. Masalah keuangan sebenarnya nggak parah-parah banget. Aku masih bisa menutupi semua kebutuhan kami, bahkan nabung sedikit-sedikit. Tapi..." ia memejamkan mata sejenak, "Sonya minta mobil baru. Dan yang bikin aku capek, dia selalu membandingkan aku dengan Papa." Darren diam, wajahnya tetap tenang tapi matanya memancarkan kesedihan yang dalam untuk putranya. Ia tidak menyela, memberi ruang bagi Keandre untuk melanjutkan. "Aku udah kasih pengertian berkali-kali, Papa. Jelasin soal prioritas, soal cicilan yang masih ada, soal tabungan darurat. Tapi dia terlalu sibuk melihat kehidupan teman-temannya yang glamor." Keandre menggeleng, tangannya mengepal di atas pangkuannya. "Dan yang paling nggak habis piki

