Malam itu, rumah benar-benar sunyi. Lampu ruang tamu yang biasanya hangat dipadamkan hampir seluruhnya, hanya lampu meja kecil di pojok yang menyala redup, memancarkan cahaya kuning lembut. Bayangan panjang menari di dinding, seolah ikut mengiringi detak jantung Jayne yang tak menentu. Tubuhnya terasa berat, pikiran dan hati tak henti menimbang rasa takut dan cemas. Anak-anak sudah tidur—Ranu meringkuk dengan boneka dinosaurus kesayangannya, Kayla tidur dengan buku sketsa di pangkuannya. Suasana tenang yang seharusnya hadir, malam itu justru terasa menekan d**a. Jayne menatap jendela, pandangan kosong menembus kegelapan luar, tapi pikirannya terus berlari. Gosip di sekolah, ketakutan Ranu, ancaman Reno—semua itu memaksa napasnya sesak. Ia menutup mata sejenak, mencoba menarik ketenangan,

