Malam itu, rumah megah keluarga Raksadipura terasa asing. Lampu-lampu kristal di langit-langit berkilau terang, namun Reno merasa kegelapan menyelubungi setiap sudut ruangan. Ia duduk di kursi empuk ruang kerja pribadinya, tetapi bukannya merasa nyaman, ia justru seperti terjebak dalam ruang asing yang tidak lagi berpihak padanya. Tangannya gemetar saat menuangkan wiski ke gelas. Cairan amber itu bergetar, menetes ke meja marmer. Reno mengumpat pelan. “Kenapa mereka menatapku begitu?” gumamnya pada diri sendiri. Sejak pagi tadi, setelah berita proyek Jawa Timur meledak di media, Reno merasa semua orang—dari staf, satpam rumah, bahkan pelayan lama keluarga—menatapnya dengan cara berbeda. Seolah-olah mereka tahu ia sedang runtuh. Seolah-olah mereka menunggu ia jatuh lebih dalam. Ia berdi

