Langit Jakarta masih kelabu ketika Ario tiba di ruang kerja khusus miliknya di salah satu gedung Takizaki Group. Lantai tujuh belas itu tidak mencolok—bukan kantor pusat yang mewah, melainkan divisi kecil yang seolah hanya mengurusi distribusi logistik. Namun justru di ruangan inilah, asisten kepercayaan Jayden itu menyusun strategi besar. Laptop-laptop menyala, layar monitor menampilkan rekaman CCTV, data transaksi, hingga grafik pergerakan tender. Suasana seperti ruang kendali operasi. Ario menaruh berkas di meja, menyapukan pandangan ke seluruh tim yang sudah menunggu: lima orang, terdiri dari analis keuangan, ahli IT, dan dua mantan penyidik yang kini bekerja freelance untuk Jayden. “Semua orang Reno yang menyusup sudah kita tandai?” tanya Ario sambil membuka berkas. Salah satu staf

