Aluna tidak hanya menggenggam tangan Ares, tapi juga melonjak penuh kegirangan, lalu memeluk pria itu erat-erat, meluapkan kebahagiaannya. Dia tak pernah membayangkan momen ini—meski hanya pernah bekerja di perusahaan kecil, kesempatan menangani proyek sebesar itu nyaris tak pernah datang. Namun, kecerdasannya yang tajam dan kemampuan memahami dengan cepat membuahkan hasil. Klien tampak begitu puas, bahkan tanpa ragu memilih untuk bekerja sama. Baru saja Aluna melepas pelukannya, rasa malu langsung menyergap. "Maaf, aku terlalu berlebihan. Aku terlalu senang." Suaranya bergetar, berusaha meredakan gejolak di dadanya. Ares tersenyum menenangkan. "Santai, itu wajar saja kalau kamu senang. Aku akui, kamu hebat. Kerja kerasmu tidak sia-sia. Bulan ini, aku akan memberimu bonus. Sekarang, kit

