Irwan berdiri di ambang pintu, rambutnya masih basah, handuk kecil melingkar di leher. Tatapannya langsung mengunci Mimi. “Mau jalan di taman sebentar?” tanyanya singkat. Isabel mendongak dari ponselnya, lalu menatap Irwan dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Wah… wangi sabun. Fix. Ini bukan ajakan, ini penculikan terencana.” Irwan mengerling dingin. “Jangan drama.” “Drama?” Isabel terkekeh. “Kau tuh kelihatan banget mau ngusir aku. Kurang satu spanduk aja: Dilarang Masuk Selain Mimi.” Mimi menahan tawa. “Bel…” “Diam,” potong Isabel. “Ini penting. Aku sudah berjasa mempertemukan kalian. Tanpa aku, dia masih trauma mantan dan kamu masih jualan jajanan!” Irwan menyahut datar, “Dan tanpa aku, kau masih ikut campur hidup orang.” Isabel membelalakkan mata. “Woy! Mimi dengar ya!

