Yuni menutup pintu ruangannya rapat-rapat, lalu segera menekan nomor yang sangat ia hafal. “Bu…” suaranya bergetar begitu panggilan terangkat. “Kenapa, Yun?” suara Bu Siti terdengar tenang, tapi dinginnya langsung terasa. “Sudah ketemu Dika dan bicarakan kehamilan mu?” Yuni mengusap perutnya pelan. “Sudah, Bu… tapi malah jadi kacau. Mimi ada di kota.” Hening sesaat di seberang sana. “Apa?” suara Bu Siti mendadak meninggi. “Anak itu sampai ke kota?!” “Iya, Bu. Dika ketemu dia. Dan… Dika malah ngotot mau menikahi Mimi,” ucap Yuni lirih. “Padahal aku ini sudah hamil anaknya…” “Huh!” Bu Siti mendengus keras. “Dasar nggak tahu diri itu anak!” Tangis Yuni pecah di ujung telepon. “Bu… aku sudah nurut sama saran ibu,” suaranya gemetar, hampir habis. “Aku sudah menjebak Bang Dika… da

