“Bang Dika?” panggil Mimi, masih tidak percaya. “Benar itu kamu, Mi,” jawab Dika cepat. Matanya menelusuri wajah Mimi, seperti memastikan bahwa yang berdiri di depannya bukan bayangan. “Aku tadi ragu… tapi dari caramu berdiri, aku langsung ingat.” Mimi menelan ludah. “Bang… kamu tinggal di sini?” Dika mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang, seolah ada beban lama yang akhirnya dilepaskan. “Aku pulang ke desa, Mi,” katanya tiba-tiba. “Mencarimu.” Mimi membeku. “Aku ke rumahmu,” lanjut Dika. “Ke sawah, ke sungai tempat kamu biasa cuci kaki sore-sore. Aku tanya orang-orang.” Ia tersenyum pahit. “Tapi katanya kamu sudah pergi. Katanya… kamu ke kota.” Jantung Mimi berdegup lebih cepat. “Bang…” “Aku pikir kamu marah,” sambung Dika jujur. “Atau mungkin sudah lupa. Aku bahkan s

