Erika melangkah pelan menuju ruang makan, menghampiri Sasa dan Rey yang sudah duduk di sana dan menunggunya dengan wajah penuh harap yang tak bisa disembunyikan. "Sabar, cuma tinggal tiga hari lagi kok. Ntar juga nggak akan terpisah, selamanya," sindir Rey, mengingat jelas ucapan Alvaro tadi bahwa hanya perlu bertahan beberapa hari, tapi untuk sesuatu yang selamanya. Sasa menimpali dengan nada menggoda, "Ya, gimana mau tahan, Mas, kalau tiga hari rasanya seperti menunggu selama tiga tahun?" Matanya berkilat mengulang ucapan Alvaro yang tadi juga didengarnya. Erika hanya tersenyum kecil. "Masa, sih? Iri, ya?" "Cih, untuk apa juga iri?" Rey membantah dengan tegas. "Ya sudah. Baguslah kalau nggak iri. Terus, kalian kenapa nggak sarapan duluan? Sengaja nunggu, karena kurang seru ya, kalau

