Si paling Sungkan

1090 Words

Ruang keluarga rumah Mama Sania dipenuhi tawa keras—sangat keras—yang membuat telingaku agak berdengung. Aku duduk di sofa sambil makan apel hijau dengan saus sambal. Kombinasi aneh yang tiba-tiba kuinginkan, sementara Mas Dirga duduk di seberangku dengan wajah cemberut. "HAHAHAHA!" Kak Bima tertawa sampai memegangi perutnya. "Adikku tersayang sekarang kena batunya!" "Karma, Ga. Ini namanya karma," timpal Mas Mahen sambil menepuk-nepuk paha dengan wajah girang. "Dulu waktu aku sama Ka Bima sengsara, kamu ngetawain kita habis-habisan!" Mas Dirga menatap mereka dengan tatapan datar—tatapan "aku-mau-menghajar-kalian-tapi-tak-mampu" yang sangat jelas. "Kalian berdua lebay." "Lebay?!" Ka Bima berdiri, menunjuk Mas Dirga. "Dulu waktu Nina hamil dan aku nggak boleh tidur sebelah dia karena ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD