Anne senang. Ben pulang selepas inspeksi proyek. Ia tak kembali ke kantor, rindu sang istri katanya. Selepas shalat ashar, Anne beranjak ke dapur, memanaskan potato gratin sisa semalam. Ia membuka jendela dapur, membiarkan udara sejuk mengalir masuk. “Aduh,” rintihnya tiba-tiba. Ben, yang baru saja menyusul, langsung mendekat dan mengusap pinggang Anne. “Sakit?” Anne tak langsung menjawab. “Baby?” “Sudah.” “Sudah apa?” tanya Ben lagi. “Ngilu sebentar doang kok. Nak bayi lagi ngulet mungkin,” jawab Anne. Ben menghela napas panjang. “Skala sakitnya?” “Heboh banget sih.” “Jawab aja susah banget sih,” balas Ben. “Satu sampai sepuluh?” Anne terkekeh. “Dua deh.” “Yakin?” “Iya.” “Sudah mulai berarti.” “Mulai apa?” “Kan harus dianggap sudah mulai, baby. Kamu bisa lahiran kapan aja

