Juna langsung memberikan tatapan siaga pada putrinya. Hatinya cemas dan bertanya-tanya, sudah sejauh apa Anas mendengar obrolan tidak pantas itu? Dan bagaimana dia tidak bisa mendengar saat pintunya dibuka dan langkah kaki yang mendekat? “Kakak? Sudah bangun?” Juna langsung beranjak dan menggendong Anas. Namun Anas langsung menolak mentah-mentah dan justru tetap melanjutkan langkahnya menuju sofa sambil menggandeng tangan ayahnya. Mitha terlihat berbinar dan melihat Anas dengan penuh kekaguman dan tatapan bersahabat. “Masya Allah … Ini pasti Anas, ya? Aslinya cantik dan menggemaskan sekali, si? Kenalkan, Tante namanya Tante Mitha.” Rupa-rupanya Mitha bahkan terlihat sudah melupakan tanya Anas sebelumnya. Anas menerima uluran tangan itu masih dengan raut yang keruh, pada akhir

