“Bunda, sudah selesai?” Bi Rumi yang baru saja menjemur pakaian memasuki dapur tepat saat Sheya melepaskan apronnya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk pada Bi Rumi. “Sudah, Bi. Saya tinggalkan cucian piringnya, nanti tolong Bibi selesaikan, ya? Biasanya jam segini Naira sudah bangun.” Sheya melirik jam dinding yang ada di ruang makan sambil menggantungkan apron ke tempat semula dan beranjak menuju ke kamar. Masnya baru saja pulang dari Hongkong jam setengah dua belas tadi malam, sehingga masih kelelahan dan lanjut tidur setelah subuh. Saat Sheya masuk ke kamar, di ranjang bayinya, Naira sudah terduduk sambil mengucek matanya dan menggumam memanggil ayahnya. “Eh, putri Ibu sudah bangun, ya? Masya Allah, rajin sekali, si, ini, mau membangunkan Kakak, iya?” Sheya langsung mengambi

