Sheya akhirnya memilih mengajak Savira menuju ke kantin sekolah dan mengambil duduk di meja paling pojok yang cukup jauh dari pengunjung yang lain. Dia memesan jus alpukat, sedangkan Savira meminta air mineral. Tatapan wanita itu terlihat penuh keyakinan dengan senyum sinis berbalut percaya diri jika dia akan memenangkan sebuah pertandingan. Sheya yang melihatnya hanya bisa menghela napas diam-diam. Obrolannya dengan Savira lah yang akan menentukan bagaimana keputusan Savira selanjutnya. Tidak ada senyum yang terukir di wajah masing-masing, yang tersisa adalah wajah penuh kesinisan milik Savira, sedang Sheya justru terlihat tenang dengan tatapan mata yang meneduhkan, dan sungguh, itu sangat mengganggu Savira. “Silahkan, Sav. Ingin bicara apa.” Sheya terlihat santai, meski obro

