Malam itu langit tampak begitu gelap, awan menutupi bintang, dan suara rintik hujan tipis terdengar di luar jendela. Jevian berjalan seorang diri, langkahnya berat seolah semua beban dunia menumpuk di bahunya. Kemejanya setengah terbuka, dasi tergantung longgar di leher, dan rambutnya sedikit berantakan. Matanya lelah, sembab oleh kurang tidur, tapi yang lebih jelas adalah ekspresi kosong—seorang pria muda yang kehilangan arah di antara kesibukan dan tekanan hidupnya sendiri. Hari itu di kantor berjalan gila. Rapat demi rapat, tekanan dari direksi, dan persaingan yang semakin ketat membuatnya nyaris meledak. Semua orang melihatnya sebagai pewaris Handsone Group, sosok yang harus selalu sempurna, tangguh, dan tidak boleh salah. Tapi malam itu, Jevian merasa hanya ingin menjadi manusia bias

