Suasana di dalam ruangan itu kian pekat. Oksigen seolah menipis, digantikan oleh aroma parfum mawar Gwiyomi dan maskulinitas Gavin yang menguar tajam. Ciuman mereka tidak lagi sekadar menuntut, itu telah berubah menjadi perebutan kendali. Gavin mencengkeram pinggang Gwiyomi, mengangkat tubuh wanita itu hingga terduduk di atas meja kerjanya yang luas, menyapu bersih semua dokumen penting hingga berserakan di lantai marmer. Gavin berhenti sejenak, menatap mata Gwiyomi dengan napas menderu. Perasaannya kacau. Ada bagian dari dirinya yang berteriak bahwa ini adalah kesalahan fatal. Namun, melihat tatapan Gwiyomi yang sayu dan mendengar kalimat. "Aku tidak keberatan menjadi bayanganmu", kewarasan Gavin runtuh total. "Gwi... kamu tahu apa yang kamu lakukan?" suara Gavin parau, penuh peringata

