Pintu kaca itu terbuka sebelum Gavin sempat melarikan diri. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang menggantung di lehernya berdiri di sana, menatap Gavin dengan senyum ramah yang tulus. "Tuan? Kenapa berdiri di sini? Ayo masuk, udara di luar mulai panas," sapa wanita itu. Ia adalah Ibu Sarah, kepala panti asuhan tersebut. Gavin tersentak, badannya menegang kaku. Ia segera memasukkan ponselnya ke saku jas dengan gerakan kikuk, mencoba menarik kembali topeng arogansinya yang sempat retak. "Ah, ya. Saya... saya sedang mencari pengurus panti ini." "Saya sendiri. Mari, kita bicara di dalam saja." Gavin terpaksa melangkah masuk. Ia melewati koridor yang dipenuhi prakarya anak-anak, menuju sebuah ruang tamu sederhana yang beraroma kayu tua dan teh melati. Dari jendela ruang tamu itu

