“Aku bisa benar-benar terlambat, kalau kamu menahanku begini.” Protes Hansika saat tubuhnya kembali ditarik, lalu terpenjara dalam dekapan posesif yang enggan melepaskan. Satya hanya bergumam, masih sesekali menciuminya tanpa bosan. Tubuh mereka masih tanpa sehelai kain, kakinya terasa berat dan hangat oleh kaki yang menumpuknya. Dalam dekapan Satya, Hansika jadi terasa tenggelam sekaligus hangat. “Rasanya memang lebih damai ya di sini, enggak ada rasa canggung kalau kita masih berbaring begini lebih lama lagi.” Katanya sambil menoleh, Satya tidak menjawab lagi selain segera mengangkat kepalanya sambil memiringkan kepala. Bibir mereka kembali saling mencumbu, padahal bibir Hansika sudah agak bengkak ulah suaminya. Hansika tertawa saat jemari itu mengusap perut dan pinggangnya. Maki

