“Setiap kali apa? Kamu harus menjelaskannya sejelas-jelasnya kalau memang anggapan saya salah.” Tuntut Hansika masih terkunci rapat tatapan mata mereka, pun tangan yang digenggam Satya. Berbicara dengan jarak yang sangat dekat, membuatnya bisa menyelami tatapan sang pengawal yang sedang berupaya jujur mengenai pernyataannya. Namun sayangnya, Satya tiba-tiba terdiam lama, seolah-olah tengah mempertimbangkan kalimat yang terlanjur dikatakan untuk dilanjutkan atau ia menyesalinya. Ia menarik napas dalam-dalam, sudah akan menjauh sembari melepas tangan Hansika. “Maafkan saya, seharusnya saya tidak bersikap begini.” “Sikap kamu selalu membingungkan, Satya. Sungguh.” Keluh Hansika, menelan kecewa karena Satya tampak enggan melanjutkan. Ia sudah mengatakan berulang. Laki-laki itu malah menj

