Setelah membersihkan diri, kali ini dengan Hansika yang tetap bersikeras membantu mengelap tubuhnya dengan air hangat meski Satya sudah mulai bisa berdiri stabil di bawah pancuran. Tentu dengan kemesraan yang masih harus mereka batasi, mengingat kondisi Satya. Tapi, kemajuannya tangan Satya sudah mulai berani mengikuti keinginannya menyentuh sang istri. Bukan hanya bertahan di pinggangnya saja. Hansika menarik diri setelah satu ciuman, sambil turun dari pangkuan Satya. Ia merapikan kotak berisi perban dan lainnya sehabis menggantinya. “Kamu bisa lepas perban minggu ini, kuyakin.” Katanya. Saat ia akan berbalik pergi, Satya menahan tangannya dan menarik Hansika kembali terduduk bersamanya. Satu tangan memeluk, tangan lain menyingkirkan rambutnya ke satu sisi supaya ia leluasa menciumi

